Selasa, Oktober 13, 2026
BerandaBeritaDPRD Samarinda Soroti Peran Orang Tua dalam Pengawasan Anak

DPRD Samarinda Soroti Peran Orang Tua dalam Pengawasan Anak

Infokaltim.id, Samarinda – Peran orang tua dinilai menjadi bagian penting dalam membentuk perilaku dan karakter anak, terutama di tengah semakin mudahnya akses anak terhadap berbagai informasi dan lingkungan di luar rumah.

Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Ismail Latisi, menilai pendidikan anak tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Menurutnya, pembentukan karakter dan pengawasan terhadap anak membutuhkan kerja sama antara orang tua di rumah dan guru di sekolah.

“Kalau kita bicara pendidikan itu kan tidak melulu tanggung jawab sekolah. Perlu kerja sama dua pihak, orang tua di rumah kemudian sekolah dan guru di sekolah,” kata Ismail, Rabu (07/10/2026).

Ia menyoroti fenomena parentless, fatherless, maupun motherless, ketika orang tua secara fisik masih berada di sekitar anak, tetapi tidak hadir secara emosional dalam kehidupan mereka.

Menurut Ismail, kondisi tersebut berpotensi membuat anak mencari perhatian maupun pelampiasan di luar rumah. Persoalan dapat semakin berkembang ketika anak kemudian berada di lingkungan yang memberikan pengaruh negatif.

“Secara fisik punya ayah, punya ibu, tapi secara emosional mereka merasa seolah-olah tidak punya orang tua,” ujarnya.

Ismail menilai kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian bersama, termasuk dalam pengawasan penggunaan telepon seluler dan akses anak terhadap konten di internet.

Ia mengungkapkan, beberapa waktu lalu pihaknya menerima kunjungan salah seorang kepala sekolah SD negeri yang menyampaikan persoalan terkait siswanya. Dari diskusi tersebut, terungkap adanya siswa sekolah dasar yang telah mengakses konten pornografi melalui perangkat digital.

Menurut Ismail, persoalan tersebut menunjukkan bahwa pengawasan anak tidak cukup hanya dilakukan di lingkungan sekolah. Sebab, sekolah dapat memberikan edukasi dan peringatan mengenai penggunaan gawai, namun pengawasan juga harus berlanjut ketika anak berada di rumah.

Karena itu, Ismail menawarkan penguatan kegiatan parenting yang dapat difasilitasi oleh sekolah. Kegiatan tersebut dinilai penting untuk menyamakan pemahaman antara guru dan orang tua mengenai pola pengawasan serta pendidikan anak.

Dengan adanya kegiatan parenting, sekolah dapat menyampaikan hal-hal yang perlu diperhatikan orang tua ketika anak berada di rumah. Termasuk dalam mengatur penggunaan telepon seluler, pemilihan tontonan, hingga pengawasan terhadap aktivitas anak di dunia digital.

“Sekolah memfasilitasi kegiatan parenting supaya nyambung kemudian antara yang diinginkan oleh sekolah dengan orang tua di rumah. Selama ini lepas. Orang tuanya di mana, anaknya di mana,” katanya.

Ismail menilai pengawasan tersebut menjadi semakin penting karena pola pikir dan perilaku anak turut terbentuk dari apa yang mereka lihat, baca, dan konsumsi melalui media digital maupun lingkungan pergaulan.

Ia mengingatkan, akses terhadap konten yang tidak sesuai usia dapat memberikan dampak terhadap perkembangan anak. Karena itu, pencegahan perlu dilakukan sejak dini melalui keterlibatan aktif orang tua dan sekolah.

“Mindset-nya terbentuk dari apa yang dibaca, apa yang ditonton. Ini yang kita khawatirkan,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan serupa juga perlu menjadi perhatian dalam mencegah berbagai kasus yang melibatkan anak dan remaja, termasuk persoalan asusila maupun penyalahgunaan narkoba.

Ismail menegaskan, penguatan pengawasan bukan berarti seluruh tanggung jawab berada di satu pihak. Sekolah, orang tua, dan lingkungan sekitar harus membangun komunikasi yang berkelanjutan agar anak mendapatkan pendampingan yang cukup, baik secara pendidikan maupun emosional.

“Enggak bisa dipungkiri peran orang tua di rumah. Perlu kerja sama,” pungkasnya.

[tra|anl|adv]

RELATED ARTICLES

Most Popular