Infokaltim.id, Samarinda- Sementara peran perempuan dalam struktur pemerintahan Kalimantan Timur (Kaltim) terus menunjukkan kemajuan yang menggembirakan, kondisi berbeda justru terlihat di parlemen daerah.
Representasi perempuan di DPRD Kaltim mengalami penurunan, menyoroti ketidakseimbangan keterlibatan perempuan dalam dua pilar penting pemerintahan.
Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Damayanti, menyatakan keprihatinannya terhadap situasi ini.
Menurutnya, meskipun perempuan berhasil menembus berbagai jabatan strategis di ranah eksekutif, hal itu belum tercermin di lembaga legislatif.
“Perempuan di pemerintahan eksekutif saat ini menunjukkan capaian luar biasa. Tapi di parlemen, justru terjadi kemunduran,” ujar Damayanti, Selasa (27/5/2025).
Ia mencontohkan sejumlah tokoh perempuan yang kini menempati posisi penting, seperti Sekretaris DPRD Nurhayati Usman, Sekretaris Daerah Sri Wahyuni, dan tokoh kesehatan seperti dr Indah Puspitasari serta drg Shanty Sintessa Wulaningrum.
“Kita lihat Bu Sri Wahyuni, menduduki jabatan Sekdaprov yang merupakan posisi tertinggi di birokrasi daerah. Ini jadi bukti bahwa perempuan mampu berperan besar dalam kepemimpinan,” tambahnya.
Namun, keberhasilan di ranah eksekutif itu berbanding terbalik dengan capaian di DPRD.
Jumlah legislator perempuan di periode 2024–2029 justru berkurang menjadi tujuh orang, dari sebelumnya delapan orang di periode 2019–2024.
“Dulu, Dapil Balikpapan mengirim dua wakil perempuan. Sekarang hanya satu. Ini menunjukkan penurunan nyata,” ungkap Damayanti.
Ia menilai, angka tersebut tidak sekadar menjadi catatan statistik, melainkan peringatan bahwa perjuangan memperkuat suara perempuan dalam proses legislasi masih jauh dari selesai.
“Banyak kebijakan di bidang kesehatan dan pendidikan yang seharusnya diperkaya dengan perspektif perempuan. Maka keberadaan mereka di parlemen sangat penting,” katanya.
Meski begitu, Damayanti tetap memberikan apresiasi tinggi kepada para legislator perempuan yang berhasil lolos ke DPRD.
Menurutnya, perjuangan mereka tidak mudah, di tengah tantangan sosial dan politik yang masih kuat.
“Perjalanan mereka penuh hambatan. Tapi dengan dukungan dari keluarga dan lingkungan, mereka bisa membuktikan diri,” jelasnya.
Ia juga berharap para legislator perempuan dapat saling menguatkan satu sama lain dan terus belajar, apapun latar belakang mereka.
“Ini bukan soal siapa lebih senior atau baru mulai. Yang penting adalah niat untuk berkontribusi dan belajar. Harapan saya, ke depan akan makin banyak perempuan yang aktif di politik,” tutup Damayanti.
Sebagai anggota Komisi IV yang fokus pada isu sosial, kesehatan, dan pendidikan, Damayanti menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak-anak di Kaltim.
“Jumlah mungkin bukan satu-satunya ukuran. Tapi semakin besar representasi perempuan, semakin kuat pula pengaruh kebijakan yang berpihak kepada mereka,” pungkasnya.
