Infokaltim.id, Bontang– Lubang bekas galian proyek jaringan gas (jargas) yang masih menganga di sejumlah ruas Kota Bontang memantik reaksi keras DPRD. Kontraktor pelaksana didesak segera membereskan pekerjaannya sebelum kondisi tersebut memakan korban.
Wakil Ketua Komisi C DPRD Bontang Muhammad Sahib menegaskan, keselamatan warga tidak boleh menjadi taruhan hanya karena pekerjaan di lapangan berjalan lamban. Terlebih, laporan mengenai kendaraan yang terperosok ke lubang galian mulai bermunculan.
Menurut Sahib, kondisi itu menunjukkan penanganan bekas pekerjaan jargas belum dilakukan secara maksimal. Lubang yang selesai digali semestinya segera ditutup atau setidaknya dilengkapi pembatas dan rambu peringatan yang mudah terlihat pengendara.
“Setiap lubang mestinya diberi tanda pengaman. Jangan sampai masyarakat baru mengetahui ada galian ketika sudah terlalu dekat. Risiko kecelakaannya sangat besar,” kata Sahib.
Politikus Partai NasDem tersebut juga menyoroti alasan kekurangan tenaga kerja yang disebut menjadi salah satu penyebab pekerjaan tak kunjung tuntas. Bagi dia, persoalan internal kontraktor tidak semestinya berdampak terhadap keamanan masyarakat.
Apalagi proyek jaringan gas di Bontang telah berjalan cukup lama. Kontraktor, kata dia, seharusnya sudah memperhitungkan kebutuhan pekerja, peralatan, hingga pengamanan lokasi sebelum pekerjaan dimulai.
“Kalau memang tenaga kerjanya tidak siap, jangan mengambil pekerjaan itu sejak awal. Jangan menjadikan alasan teknis sebagai pembenaran, sementara pekerjaan sudah berjalan cukup lama,” ujarnya.
Komisi C DPRD Bontang pun berencana memanggil kontraktor pelaksana. Pertemuan tersebut akan digunakan untuk meminta penjelasan mengenai lambatnya penyelesaian pekerjaan sekaligus menindaklanjuti keluhan masyarakat terhadap galian jargas.
Sahib menilai evaluasi perlu dilakukan secara serius. Jika kontraktor tidak memiliki kemampuan menyelesaikan pekerjaan sesuai kewajibannya, ia meminta pelaksana tidak memaksakan diri.
“Kalau memang tidak sanggup menyelesaikan pekerjaan dengan baik, lebih baik mundur saja. Saya yakin masih banyak kontraktor lain yang mampu mengerjakan proyek ini secara profesional,” tegasnya.
Di tengah belum tuntasnya pekerjaan, masyarakat juga diminta lebih berhati-hati saat melintasi ruas jalan yang menjadi lokasi pembangunan jaringan gas. Pengendara roda dua dinilai paling rentan ketika lubang berada di badan maupun sisi jalan, terutama pada malam hari atau ketika jarak pandang terbatas.
Komisi C menekankan pembangunan infrastruktur harus berjalan beriringan dengan penerapan standar keselamatan. Keberadaan jargas memang ditujukan memberikan manfaat bagi masyarakat, namun proses pembangunannya tidak boleh justru menghadirkan ancaman baru bagi pengguna jalan.
Karena itu, Sahib meminta kontraktor segera menutup seluruh lubang bekas galian, memasang pengaman pada titik yang masih dikerjakan, serta mempercepat penyelesaian proyek. Keselamatan masyarakat, tegas dia, harus menjadi prioritas selama pekerjaan berlangsung.
[ayu|anl|adv dprd bontang]
