Infokaltim.id, Samarinda – Kebiasaan masyarakat Kota Samarinda yang gemar mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula mendapat perhatian khusus dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda.
Ketua Komisi IV, Mohammad Novan Syahronny Pasie, mengingatkan bahwa pola konsumsi tersebut berpotensi besar meningkatkan kasus penyakit kronis, terutama diabetes.
“Kalau kita membicarakan gula, otomatis kita juga bicara soal potensi diabetes,” ujar Novan.
Ia menjelaskan, gula memang memiliki fungsi penting sebagai sumber energi bagi tubuh.
Namun, asupan yang berlebihan justru bisa menjadi pemicu timbulnya berbagai masalah kesehatan.
“Gula memang dibutuhkan, tapi jumlahnya harus dibatasi. Kalau kebablasan, justru bisa membawa dampak buruk bagi tubuh,” tambahnya.
Novan menyoroti tren meningkatnya konsumsi minuman kemasan dan makanan olahan yang mengandung gula dalam jumlah tinggi.
Kebiasaan itu, menurutnya, sering dianggap sepele karena sudah melekat pada gaya hidup masyarakat modern.
Padahal, bila tidak dikendalikan, dampaknya bisa fatal.
“Kalau terlalu sering dan dalam jumlah besar, gula akan menumpuk di dalam tubuh. Itu yang kemudian memicu penyakit serius,” tegasnya.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi diabetes di Kalimantan Timur mencapai 3,1 persen.
Angka tersebut lebih tinggi di Kota Samarinda yang mencatat sekitar 4,11 persen, menjadikannya sebagai daerah dengan kasus tertinggi di provinsi ini.
Bahkan, di Puskesmas Pasundan, Kecamatan Samarinda Ulu, tercatat 348 penderita diabetes tipe II pada akhir 2021.
Sebagai pembanding, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan batas konsumsi gula harian tidak lebih dari 50 gram atau sekitar 12 sendok teh.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan RI menganjurkan konsumsi maksimal 4 sendok makan gula per hari.
Karena itu, Novan mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam memilih makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari.
Imbauan ini khususnya ditujukan bagi kelompok usia di atas 40 tahun, yang secara alami mulai mengalami penurunan metabolisme tubuh dan lebih rentan terserang penyakit degeneratif.
“Kesadaran untuk membatasi gula harus dibangun sejak dini. Kalau pola hidup sehat bisa dijaga, maka kualitas kesehatan masyarakat Samarinda juga akan tetap terpelihara,” pungkasnya.
[anr|anl|adv]
