Infokaltim.id, Samarinda – Samarinda kembali diguncang kabar duka. Seorang warga dilaporkan meninggal dunia setelah tercebur ke lubang bekas tambang pada Jumat (12/08/2025) lalu.
Peristiwa ini menambah jumlah korban jiwa akibat lubang tambang di Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi 52 orang.
Tragedi tersebut memicu keprihatinan luas. Lubang tambang yang terbengkalai tanpa reklamasi bukan hanya meninggalkan jejak kerusakan lingkungan, tetapi juga menjadi ancaman nyata bagi keselamatan masyarakat.
Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Anhar, menilai kasus ini mencerminkan lemahnya pengawasan pemerintah serta rendahnya tanggung jawab perusahaan tambang.
Menurutnya, upaya reklamasi seharusnya tidak bisa ditunda, mengingat risiko korban jiwa terus berulang.
“Sejak awal, perusahaan pemegang konsesi wajib menanggung tanggung jawab penuh. Setidaknya memasang rambu peringatan dan melakukan penjagaan agar lubang tambang tidak kembali merenggut nyawa,” ujar Anhar.
Ia juga menyinggung target Wali Kota Samarinda yang menargetkan kota ini bebas tambang pada 2026.
Meski menyambut baik, ia mengingatkan bahwa lubang-lubang lama tetap berpotensi memakan korban bila tidak direklamasi secara menyeluruh.
“Penghentian tambang di 2026 tidak otomatis menutup masalah. Yang terpenting adalah bagaimana pemerintah memastikan lubang-lubang itu ditangani tuntas,” tegas politisi PDIP tersebut.
Selain itu, Anhar menyoroti mekanisme dana jaminan reklamasi.
Dirinya menilai jumlah jaminan yang diberlakukan selama ini terlalu kecil dibandingkan dengan dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan aktivitas tambang.
“Besaran jaminan reklamasi harus ditingkatkan, dan penggunaannya wajib diawasi ketat. Tanpa pengaturan tegas dan sanksi jelas, perusahaan tambang akan terus abai terhadap kewajiban mereka,” tambahnya.
Masyarakat pun semakin resah. Tragedi terbaru ini kian menguatkan istilah “lubang maut” yang sudah lama melekat di Samarinda.
Warga mendesak agar pemerintah bersama DPRD benar-benar menghadirkan langkah nyata, bukan sekadar janji atau wacana. [anr|anl|adv]
