Infokaltim.id, Bontang – Polemik iuran paguyuban kelas di sejumlah sekolah kembali menjadi perhatian. Sekretaris Komisi A DPRD Kota Bontang, Saeful Rizal, mengingatkan agar seluruh sekolah mematuhi regulasi yang telah ditetapkan pemerintah dan tidak menjadikan iuran sebagai kewajiban bagi orang tua siswa.
Saeful menegaskan pandangan yang disampaikannya merupakan sikap pribadi sebagai anggota DPRD, bukan pernyataan resmi Komisi A. Menurutnya, apabila iuran paguyuban benar-benar bersifat sukarela serta disepakati bersama seluruh orang tua murid tanpa melanggar aturan, maka tidak ada persoalan.
“Kalau memang bersifat sukarela dan sudah merupakan kesepakatan seluruh orang tua murid serta tidak melanggar regulasi, saya kira tidak ada masalah,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa sekolah tidak boleh menarik pungutan terhadap kebutuhan yang sudah dibiayai Pemerintah Kota Bontang. Hal tersebut dinilai bertentangan dengan kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah.
“Kalau sudah dibayari atau dibiayai oleh Pemerintah Kota Bontang, maka sekolah tidak punya kewenangan menarik biaya lagi dari orang tua murid,” tegasnya.
Saeful juga menyoroti kekhawatiran sebagian orang tua yang enggan menolak iuran karena takut berdampak terhadap anak mereka di sekolah. Menurutnya, apabila sejak awal telah disepakati bahwa iuran bersifat sukarela, maka tidak boleh ada konsekuensi ataupun perlakuan berbeda terhadap siswa yang orang tuanya tidak membayar.
Apabila ditemukan adanya tekanan atau perlakuan yang tidak sesuai dengan kesepakatan tersebut, ia meminta orang tua segera menyampaikan laporan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang.
“Kalau kenyataannya yang tidak membayar kemudian mendapat perlakuan yang tidak nyaman, komunikasikan kepada Dinas Pendidikan supaya dicek dan dicarikan solusinya,” katanya.
Politikus PKS itu menilai penyelesaian persoalan semacam ini sebaiknya dilakukan melalui komunikasi yang melibatkan seluruh pihak, mulai dari paguyuban, komite sekolah, orang tua hingga pemerintah.
Ia mengingatkan agar persoalan pendidikan tidak diselesaikan dengan saling menyalahkan. Sebab, suasana yang tidak kondusif justru dapat berdampak terhadap perkembangan peserta didik.
“Saya ingin kita bersikap komprehensif. Jangan dari awal menyalahkan salah satu pihak. Semua didengar, kemudian dicari solusi bersama melalui komunikasi,” ungkapnya.
Menurut Saeful, lingkungan belajar yang nyaman merupakan faktor penting dalam menunjang prestasi siswa, baik secara akademik maupun pembentukan karakter. “Anak yang belajar dalam suasana tidak nyaman tentu tidak akan produktif. Prestasi akademik, sosial maupun spiritualnya bisa ikut terpengaruh,” tandasnya.
[ayu|anl|adv dprd bontang]
