Sabtu, Oktober 31, 2026
BerandaBeritaFestival Seni Budaya PPU Digelar Dua Hari Usai Nondoi, Didukung Dana Aspirasi...

Festival Seni Budaya PPU Digelar Dua Hari Usai Nondoi, Didukung Dana Aspirasi Rp50 Juta

Infokaltim.id, Penajam – Agenda kebudayaan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) berlanjut setelah Festival Belian Adat Paser Nondoi. Dua hari setelah rangkaian Nondoi berakhir, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) PPU menyiapkan Festival Seni Budaya dengan format perlombaan yang menyasar peserta dari berbagai kelompok usia.

Festival tersebut mendapat dukungan dana aspirasi sebesar Rp50 juta. Anggaran itu dialokasikan untuk mendukung rangkaian lomba seni yang menjadi konsep utama kegiatan.

Kepala Disbudpar PPU, Safwana, mengatakan Festival Seni Budaya dan Nondoi memiliki jadwal yang berdekatan, tetapi dirancang dengan konsep berbeda. Nondoi tetap berpusat pada prosesi ritual adat, sedangkan festival seni memberi ruang lebih besar bagi masyarakat untuk berkompetisi dan menampilkan kemampuan di bidang seni budaya.

“Setelah Nondoi selesai, dua hari kemudian kami lanjutkan dengan Festival Seni Budaya. Pelaksanaannya memang berdekatan, tetapi konsep dan kepanitiaannya berbeda,” kata Safwana, Kamis (22/10/2026).

Sejumlah cabang lomba disiapkan dalam festival tersebut, antara lain fashion show, tari kreasi Nusantara dan vokal. Disbudpar masih mematangkan teknis perlombaan bersama Lembaga Adat Paser (LAP) dan pihak penyelenggara.

Materi lomba juga diarahkan tetap memiliki kaitan dengan budaya daerah. Pada kategori busana, misalnya, unsur kain atau batik daerah dapat menjadi bagian dari penampilan. Sementara untuk lomba vokal, peserta akan diarahkan membawakan lagu yang memiliki nuansa daerah, termasuk karya yang menggunakan bahasa Paser.

Konsep tersebut membuat Festival Seni Budaya memiliki ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk tampil. Pesertanya tidak dibatasi pada satu kelompok umur, melainkan disiapkan untuk kategori anak-anak, remaja hingga dewasa.

Safwana mengatakan pemisahan konsep dengan Nondoi diperlukan agar kedua kegiatan memiliki karakter masing-masing. Rangkaian Nondoi tetap dijalankan sesuai prosesi adat, sedangkan Festival Seni Budaya dikembangkan melalui kompetisi yang lebih terbuka.

“Festival Seni Budaya ini memang kami arahkan ke lomba-lomba seni. Konsepnya tetap kami bahas bersama LAP supaya unsur budaya daerahnya kuat dan tidak lepas dari konteks kegiatan,” ujarnya.

Dari sisi pembiayaan, dukungan untuk Festival Seni Budaya juga berbeda dengan Nondoi. Festival Nondoi sebelumnya mendapat alokasi Rp200 juta melalui APBD Murni dan tambahan Rp100 juta melalui APBD Perubahan. Sementara Festival Seni Budaya memperoleh dukungan tersendiri sebesar Rp50 juta melalui dana aspirasi DPRD.

Pemisahan anggaran tersebut mengikuti perbedaan kebutuhan dan konsep kedua agenda. Dana Rp50 juta untuk Festival Seni Budaya diarahkan pada pelaksanaan rangkaian perlombaan yang saat ini masih dimatangkan Disbudpar bersama pihak terkait.

Dengan jarak pelaksanaan yang hanya dua hari setelah Nondoi, Festival Seni Budaya menjadi agenda lanjutan yang memperpanjang ruang tampil bagi pelaku dan peserta seni di PPU. Jika Nondoi menghadirkan prosesi adat Paser, festival ini memberi panggung kompetisi untuk tari, vokal, busana dan bentuk ekspresi seni lainnya.

[say|anl|adv kmf ppu]

Post Views: 150
RELATED ARTICLES

Most Popular

Post Views: 93,809