Infokaltim.id, Samarinda – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) menegaskan komitmennya dalam mengembangkan ekonomi kreatif (ekraf) sebagai pilar baru pembangunan berkelanjutan.
Melalui Dinas Pariwisata Kaltim, roadmap atau peta jalan ekraf 2026–2030 tengah disiapkan untuk memperkuat ekosistem kreatif di Benua Etam.
Kepala Bidang Pengembangan Ekraf Dispar Kaltim, Awang Khalik, menjelaskan ekraf bukan sekadar sektor ekonomi, tetapi juga wadah pelestarian budaya, penguatan identitas lokal, dan pemberdayaan generasi muda.
“Ekonomi kreatif lahir dari ide, keterampilan, teknologi, hingga warisan budaya. Sub-sektornya luas, mulai kuliner, fashion, kriya, musik, film, hingga aplikasi digital. Potensi ini harus kita kelola secara berkelanjutan,” tegasnya pada Kamis (11/09/2025).
Menurut Awang, Kaltim sebelumnya telah memiliki peta jalan ekraf 2021–2025 yang melahirkan sejumlah rencana aksi, di antaranya penyediaan ruang kreasi, akses permodalan, hingga fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Hasilnya, Kaltim bahkan masuk dalam 15 daerah prioritas pengembangan ekraf nasional oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
“Kalau ibarat anak, ekraf Kaltim ini masih balita. Tapi alhamdulillah fondasinya sudah kuat. Tahun depan bahkan akan dibangun UPT Ekraf sebagai bukti keseriusan pemerintah,” ujarnya.
Awang menekankan keberhasilan roadmap ekraf tidak bisa hanya ditopang pemerintah.
Kolaborasi dengan pelaku usaha, komunitas kreatif, perguruan tinggi, hingga masyarakat luas menjadi kunci.
“Kami berharap kabupaten/kota segera menyusun nomenklatur ekraf di daerahnya. Jangan sampai kebijakan pusat dan provinsi tidak nyambung dengan daerah,” katanya.
Lebih jauh, ia mendorong agar ruang-ruang publik yang tidak terpakai bisa diubah menjadi ruang kreasi anak muda. Salah satunya bekas Bandara Temindung yang kini aktif dipakai komunitas kreatif.
“Jangan ragukan anak muda Kaltim. Selagi diberi ruang, mereka bisa melahirkan ide-ide luar biasa. Bahkan pasar kreatif bisa mereka gelar secara mandiri,” tutur Awang.
Ia optimistis peta jalan ekraf 2026–2030 akan melahirkan ekosistem kreatif yang terintegrasi, berdaya saing, sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian daerah.
“Peluang itu selalu ada. Tantangannya adalah bagaimana kita mendekati pasar, menyiapkan model bisnis, dan menghubungkan start-up dengan mentor yang sudah mapan. Dengan kemitraan lintas sektor, Kaltim bisa menjadi contoh pengembangan ekraf di Indonesia,” pungkasnya.
[anr|anl|adv diskominfo kaltim]
