Minggu, Juli 19, 2026
BerandaBeritaSri Puji Sebut Kekurangan Guru Jadi Kendala Penerapan Muatan Lokal di Sekolah...

Sri Puji Sebut Kekurangan Guru Jadi Kendala Penerapan Muatan Lokal di Sekolah Samarinda

Infokaltim.id, Samarinda – Program muatan lokal (mulok) yang seharusnya menjadi ruang pelestarian budaya dan kearifan daerah di sekolah-sekolah Samarinda, hingga kini masih menghadapi tantangan serius.

Hambatan utama datang dari keterbatasan tenaga pengajar yang memiliki kompetensi di bidang tersebut.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti, menilai kondisi itu membuat implementasi mulok belum berjalan merata.

Menurutnya, kekosongan sumber daya manusia menjadi masalah pokok yang tak kunjung terselesaikan.

“Pertanyaannya, siapa yang bisa mengajar bahasa Kutai, siapa yang bisa membimbing seni tari, atau mengenalkan cara membuat bolu peca dan menjelaskan tradisi seperti amplang? Guru yang benar-benar menguasai bidang itu masih sangat sedikit,” ujarnya saat ditemui pada Sabtu (13/9/2025).

Dari total hampir 800 satuan pendidikan di Samarinda, hanya sebagian kecil yang mampu menggelar pembelajaran muatan lokal dengan baik.

Dia mencontohkan SMP Negeri 2 Samarinda, yang sudah dapat menyajikan pelajaran seni tari karena memiliki tenaga pengajar khusus.

Namun di sekolah lain, program serupa belum bisa terlaksana karena ketiadaan guru yang sesuai.

“Semestinya pembelajaran muatan lokal bisa dilaksanakan seragam, terutama bahasa Kutai yang dulu pernah diajarkan secara resmi di sekolah. Tapi sekarang kondisinya jauh berbeda,” tegas Puji.

Ia mengingatkan, pada generasi sebelumnya, pelajaran bahasa Kutai pernah disusun dengan buku ajar khusus dan diajarkan secara sistematis.

Kini, materi maupun tenaga pengajarnya tidak lagi tersedia, sehingga siswa tidak memiliki akses terhadap pengetahuan budaya lokal secara formal.

Untuk mengatasi masalah ini, Puji mendorong adanya strategi jangka panjang dari pemerintah daerah.

Salah satunya, dengan mengirim guru untuk menempuh pendidikan atau pelatihan di bidang seni dan budaya agar memiliki sertifikasi serta literasi yang diakui.

“Misalnya, guru seni tari bisa dikuliahkan atau dilatih di sekolah seni di Yogyakarta. Begitu juga musik tradisional seperti sape, pengajarnya harus benar-benar ahli dan punya dasar literasi yang kuat. Hal ini yang masih kurang kita miliki di Samarinda,” jelasnya.

Puji menekankan, meski muatan lokal sudah tercantum dalam kurikulum, tanpa dukungan SDM yang mumpuni, pelaksanaannya tetap akan berjalan setengah hati.

“Kita ingin muatan lokal hadir di sekolah sebagai wadah pelestarian kearifan lokal. Namun kuncinya ada di ketersediaan guru. Itu pekerjaan rumah terbesar kita,” tutupnya.

[anr|anl|adv]

RELATED ARTICLES

Most Popular