Infokaltim.id, Samarinda – Museum Kota Samarinda kembali menuai sorotan. Meski baru berdiri sejak 2019, keberadaannya dianggap belum mampu berperan sebagai pusat edukasi maupun destinasi wisata budaya.
Kondisi fisik bangunan pun mulai menurun, sementara daya tarik bagi masyarakat masih rendah.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, menilai kerusakan pada gedung museum cukup memprihatinkan, mengingat usianya baru enam tahun.
“Sejak dibangun pada 2019, sekarang sudah ada bagian yang bolong dan rusak. Padahal seharusnya bangunan ini bisa terawat dengan baik,” ungkap Puji saat ditemui, Selasa (16/9/2025).
Selain itu, letak museum yang berada di tepi jalan utama juga belum memberi nilai tambah. Alih-alih menarik perhatian pengunjung, area di sekitarnya lebih sering difungsikan sebagai lahan parkir.
“Kesannya bukan seperti destinasi budaya, tapi lebih mirip tempat parkir,” ujarnya.
Puji menekankan bahwa kendala terbesar justru terletak pada isi museum.
Koleksi yang tersedia sangat terbatas, sehingga tidak mampu memberikan pengalaman berkesan bagi pengunjung.
“Isi museum masih sangat minim. Tanpa koleksi bersejarah yang memadai, sulit membangun ikatan emosional dengan pengunjung,” jelasnya.
DPRD mendorong agar Pemkot maupun pengelola museum melakukan terobosan, baik dengan membuka peluang sumbangan dari masyarakat, meminjam koleksi dari instansi lain, maupun membeli artefak yang berkaitan dengan perjalanan sejarah Samarinda.
“Kita perlu literatur, lukisan, dan benda-benda bersejarah yang bisa merekam tonggak perjalanan kota ini,” tambahnya.
Sejauh ini, mayoritas pengunjung museum berasal dari kalangan pelajar. Namun, ketertarikan mereka tidak bertahan lama karena fasilitas interaktif sangat terbatas.
“Anak-anak sekolah biasanya datang hanya sebentar. Mereka cepat bosan karena sarana digitalnya masih minim dan kurang ramah pengguna,” kata Puji.
Ia menilai museum seharusnya lebih dari sekadar tempat penyimpanan benda, melainkan menjadi pusat pembelajaran publik.
Dengan jumlah pelajar di Samarinda yang mencapai 134 ribu orang, potensi pengunjung sangat besar jika fasilitas diperbaiki.
“Kalau disiapkan sarana yang ramah anak dan lebih menarik, museum bisa menjadi ruang belajar yang penting bagi generasi muda,” tegasnya.
[anr|anl|adv]
