Infokaltim.id, Bontang – Sudah punya gedung khusus, tetapi produk lokal masih mengandalkan etalase toko ritel. Kondisi tersebut menjadi sorotan Anggota DPRD Kota Bontang Rustam. Ia menilai UMKM Center Bontang belum memainkan peran maksimal sebagai pusat pemasaran sekaligus etalase produk unggulan Kota Taman.
Menurut Rustam, keberadaan fasilitas yang dibangun pemerintah semestinya mampu mengubah pola pemasaran pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Produk khas Bontang tidak seharusnya terus bergantung pada jaringan ritel maupun tempat usaha milik swasta untuk menjangkau konsumen.
UMKM Center, kata dia, harus diposisikan sebagai titik utama ketika masyarakat maupun wisatawan ingin mencari produk lokal. Mulai kuliner, kerajinan, hingga berbagai produk ekonomi kreatif dapat dihimpun dalam satu kawasan.
“UMKM Center bukan hanya tempat berjualan. Ini wadah promosi produk-produk unggulan daerah. Kalau semua dipusatkan di sini, masyarakat dan wisatawan lebih mudah menemukan produk khas Bontang,” kata Rustam.
Ia melihat peluang tersebut cukup besar. Apalagi Bontang memiliki beragam produk UMKM yang berpotensi dikembangkan sebagai oleh-oleh maupun identitas daerah. Persoalannya, produk-produk tersebut selama ini tersebar di berbagai lokasi sehingga konsumen harus mencari satu per satu.
Karena itu, UMKM Center Bontang perlu dibangun sebagai pusat rujukan. Bukan sekadar menyediakan lapak, melainkan menciptakan ekosistem pemasaran yang mampu mempertemukan produsen dengan pembeli secara langsung.
Rustam juga melihat potensi UMKM Center untuk masuk dalam rantai sektor pariwisata. Wisatawan yang datang ke Bontang dapat diarahkan berkunjung ke lokasi tersebut untuk membeli buah tangan. Dengan konsep itu, aktivitas wisata sekaligus memberikan dampak ekonomi kepada pelaku usaha lokal.
Fungsi UMKM Center bahkan bisa diperluas sebagai ruang promosi kepada calon mitra bisnis dan investor. Produk unggulan dapat ditampilkan secara representatif sehingga membuka kesempatan kerja sama, perluasan pasar, hingga pengembangan skala usaha.
Namun, Rustam mengingatkan keberadaan gedung saja tidak otomatis membuat pusat UMKM ramai. Pengelolaan, promosi, kegiatan rutin, hingga upaya mendatangkan pengunjung harus berjalan beriringan.
Tanpa strategi tersebut, fasilitas yang telah dibangun berisiko tidak memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan UMKM. Ia pun mendorong pelaku usaha memaksimalkan fasilitas yang telah tersedia dan secara bertahap mengurangi ketergantungan pemasaran melalui toko ritel. Pemerintah pada saat bersamaan diminta memastikan UMKM Center benar-benar hidup dan memiliki daya tarik.
Kolaborasi pemerintah dan pelaku usaha dinilai menjadi penentu. Jika dikelola serius, UMKM Center bukan hanya menjadi lokasi transaksi, tetapi dapat tumbuh sebagai pusat promosi produk khas sekaligus penggerak ekonomi lokal.
Rustam berharap penguatan pemasaran tersebut membuat UMKM Bontang semakin dikenal dan memiliki pasar yang lebih luas. Dampaknya diharapkan bermuara pada peningkatan pendapatan pelaku usaha serta memperbesar perputaran ekonomi di Kota Bontang
