Infokaltim.id, Samarinda– Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Andi Satya Adi Saputra, menyuarakan keprihatinan mendalam atas minimnya jumlah tenaga kesehatan di Benua Etam.
Menurutnya, dari kebutuhan sekitar 4.000 tenaga medis, baru sekitar 50 persen yang saat ini terpenuhi.
“Kondisi ini sudah tergolong darurat. Rasio dokter dengan jumlah pasien masih jauh dari ideal, terutama di daerah-daerah terpencil yang sulit dijangkau,” kata Andi pada Jumat (4/7/2025).
Ia menekankan bahwa idealnya satu orang dokter melayani maksimal seribu warga.
Namun kenyataannya, banyak wilayah pelosok yang belum memiliki cukup tenaga medis untuk menjamin pelayanan dasar kesehatan.
Menanggapi kondisi tersebut, Andi mendorong penggunaan teknologi sebagai solusi jangka pendek, khususnya melalui layanan telemedicine.
Menurutnya, dengan akses internet yang mulai membaik di berbagai wilayah, layanan kesehatan digital dapat menjadi alternatif untuk menjangkau masyarakat yang selama ini kesulitan mendapat pelayanan medis langsung.
“Telemedicine bisa menjadi jembatan awal bagi masyarakat di daerah untuk tetap bisa konsultasi dan mendapat pelayanan dasar, tanpa harus menempuh jarak jauh ke rumah sakit pusat,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengajak adanya kerja sama lintas sektor, termasuk dengan universitas-universitas di luar Kaltim, guna mendistribusikan tenaga medis ke wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).
Dia menilai kolaborasi ini penting untuk memperluas jangkauan layanan kesehatan di provinsi tersebut.
Dalam jangka panjang, Andi mengusulkan program beasiswa khusus bagi generasi muda Kaltim yang berminat menempuh pendidikan di bidang kesehatan.
Skema ini akan mengikat penerima beasiswa untuk kembali mengabdi di daerah asal usai menyelesaikan pendidikan.
“Ini investasi masa depan. Kita bantu mereka sekolah, tapi mereka juga punya tanggung jawab moral untuk kembali dan membangun daerah,” tegasnya.
Ia pun menyarankan adanya sistem rotasi tenaga medis dari wilayah perkotaan ke daerah-daerah terpencil, yang disertai insentif sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian mereka.
Andi menegaskan, jika persoalan kekurangan tenaga medis ini tidak segera diatasi secara terstruktur, maka Kaltim akan kesulitan memenuhi standar layanan kesehatan yang merata bagi seluruh warganya.
