Minggu, Juli 19, 2026
BerandaBeritaKomisi IV DPRD Kaltim Ingatkan Kekerasan pada Anak Masih Terjadi, Sebut Orang...

Komisi IV DPRD Kaltim Ingatkan Kekerasan pada Anak Masih Terjadi, Sebut Orang Tua Sering jadi Pelaku

Infokaltim.id, Samarinda – Meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak di berbagai wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) kembali mendapat sorotan serius dari Komisi IV DPRD Kaltim.

Rentetan peristiwa yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir dinilai bukan sekadar kejadian terpisah, melainkan cerminan rapuhnya ketahanan psikososial keluarga di daerah tersebut.

Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, Baba, mengungkapkan bahwa sejumlah laporan terbaru memperlihatkan kecenderungan mengkhawatirkan orang tua semakin sering terlibat sebagai pelaku kekerasan.

Menurutnya, kondisi ini menandakan bahwa persoalan kesehatan mental dalam keluarga tidak ditangani secara memadai oleh sistem pencegahan yang ada.

“Ini menunjukkan adanya faktor laten yang tidak terjangkau oleh mekanisme pencegahan selama ini,” kata Baba.

Ia menekankan bahwa aksi kekerasan ekstrem, mulai dari penganiayaan berat hingga kasus dugaan pembunuhan anak oleh orang tua, harus dipandang sebagai sinyal darurat.

Deteksi dini terhadap gangguan psikologis di dalam rumah tangga, tegasnya, masih sangat lemah.

“Ketika orang tua sampai kehilangan kontrol dan melukai atau bahkan menghilangkan nyawa anaknya, itu bukan hanya peristiwa tragis. Ada persoalan mendasar yang perlu ditelusuri,” ujarnya.

Baba menjelaskan bahwa faktor pemicu kekerasan dalam keluarga biasanya saling berkaitan.

Selain kondisi mental yang tidak pernah teridentifikasi, tekanan ekonomi, konflik rumah tangga berkepanjangan, serta pola pengasuhan yang tidak adaptif turut memperbesar peluang terjadinya kekerasan.

Ia juga mengkritik bahwa pendekatan penanganan kasus selama ini terlalu berfokus pada aspek hukum. Sisi psikologis baik pelaku maupun anak sebagai korban sering kali terabaikan.

“Banyak orang tua tidak dibekali kemampuan mengelola emosi, sementara tantangan dalam mengasuh anak semakin kompleks,” tuturnya.

Menurut Baba, beberapa kasus yang terungkap sebenarnya dapat dicegah jika pelaku memperoleh pendampingan profesional lebih awal.

Namun akses layanan kesehatan mental di Kaltim masih terbatas, terutama bagi keluarga berisiko.

Ia menegaskan perlunya edukasi pola asuh yang lebih empatik dan sesuai dengan perkembangan psikologi anak masa kini. Pendekatan keras yang diwariskan secara turun-temurun, katanya, sudah tidak relevan lagi.

“Persoalannya bukan sekadar perilaku anak, tetapi juga sejauh mana orang tua mengenali kemampuan dirinya sebagai pengasuh,” pungkas Baba.

[anr|anl|ads dprd kaltim]

RELATED ARTICLES

Most Popular