Infokaltim.id, Penajam- Festival Belian Adat Paser Nondoi 2026 membawa tema baru, “Rongin Roe Rompai Rempayom” yang bermakna sejuk, tentram, aman dan damai. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) kini mempercepat pematangan rangkaian acara bersama Lembaga Adat Paser (LAP) menjelang pelaksanaan pada 9-12 November 2026.
Tema tersebut menjadi bagian dari kemasan Nondoi tahun ini, sementara rangkaian ritual adat tetap menjadi agenda utama. Nondoi dikenal sebagai ritual Belian masyarakat Paser yang berkaitan dengan bersih kampung dan doa keselamatan bagi masyarakat.
Kepala Disbudpar PPU, Safwana, mengatakan pembahasan bersama LAP masih dilakukan untuk memastikan setiap rangkaian sesuai dengan ketentuan adat sekaligus dapat dikemas menarik dalam pelaksanaan festival.
“Tema tahun ini Rongin Roe Rompai Rempayom, artinya sejuk, tentram, aman dan damai. Untuk rangkaiannya masih kami matangkan bersama LAP,” kata Safwana, Kamis (22/10/2026).
Agenda pembukaan dijadwalkan berlangsung pada 9 November. Pada malam harinya, rangkaian dilanjutkan dengan prosesi ritual adat yang dilaksanakan lembaga adat.
Malam kedua dan ketiga akan diisi penampilan delegasi budaya dari empat kecamatan di PPU. Disbudpar juga menyiapkan parade budaya yang melibatkan perwakilan wilayah tersebut.
Setelah Nondoi, Disbudpar PPU masih akan melaksanakan kegiatan kebudayaan lainnya bertajuk Festival Seni Budaya. Agenda itu masih dalam tahap finalisasi bersama LAP.
Safwana melanjutkan, bahwa Nondoi 2026 juga akan diisi prosesi pemberian gelar kehormatan adat kepada Bupati PPU. Rangkaian festival kemudian ditutup dengan prosesi Larung Jakit.
Dari sisi anggaran, dukungan pelaksanaan Nondoi tahun ini mencapai Rp300 juta. Anggaran awal sebesar Rp200 juta bertambah Rp100 juta melalui APBD Perubahan.
Tambahan anggaran tersebut digunakan untuk menunjang kebutuhan pelaksanaan festival, termasuk rangkaian adat dan pertunjukan budaya yang melibatkan pelaku seni serta masyarakat.
Safwana mengatakan penambahan dukungan anggaran menjadi ruang bagi Disbudpar untuk menata pelaksanaan Nondoi dengan lebih baik. Namun, peningkatan kemasan tetap disesuaikan dengan karakter kegiatan adat.
“Anggaran memang bertambah, tetapi yang paling penting nilai adatnya tetap kami jaga. Pelaku budaya juga kami libatkan dalam rangkaian kegiatan,” katanya.
Dengan waktu pelaksanaan yang tinggal beberapa pekan, Disbudpar bersama LAP dan penyelenggara terus merampungkan detail acara. Pembahasan mencakup rangkaian ritual, penampilan budaya, hingga kebutuhan teknis pelaksanaan di lapangan.
Nondoi 2026 akan membawa pesan Rongin Roe Rompai Rempayom dalam perayaan budaya Paser di PPU, dengan rangkaian adat, parade budaya dan pertunjukan yang disiapkan selama empat hari.
[say|anl|adv kmf ppu]
