
Infokaltim.id, Samarinda– Perkembangan teknologi saat ini semakin pesat, salah satunya adalah pengolahan sampah menjadi bahan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Saat ini Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda telah melakukan pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) dengan proses pembakaran hingga menghasilkan energi.
Hal ini bukan hanya untuk mengurangi penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) melainkan barang yang tidak berguna dijadikan bermanfaat bagi masyarakat, ini adalah kemajuan teknologi yang begitu cepat dan masif hingga inovasi dalam pemanfaatan sampah.
Tapi, salah satu Anggota DPRD Samarinda, M. Ardiansyah, mendorong agar Pemkot tidak hanya memanfaatkan sampah dengan menghasilkan energi listrik saja, melainkan adanya teknologi baru yaitu pirolisis yang dapat menghasilkan bahan bakar minyak (BBM) setara dengan jenis solar.
“Iya seperti pemanfaatan sampah plastik yang tidak bernilai bisa bernilai yang diolah menjadi bahan bakar cair melalui teknologi pirolisis. Ini langkah bisa menjadi solusi pengurangan sampah sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat,” ungkapnya.
Dia menyebutkan, pengolahan sampah menjadi BBM itu telah dilakukan dibeberapa daerah salah satunya di Kota Cimahi Provinsi Jawa Barat. Sehingga, dirinya menginginkan agar Pemkot Samarinda juga melakukan hal serupa sebagai upaya memnafaatkan teknologi yang mampu mengelola sampah menjadi BBM.
“Iya, selain mengurangi penumpukan sampah di TPA, sebaiknya memanfaatkan teknologi yang ada, sebagai bentuk inovasi daerah,” ujarnya.
Anggota Komisi III DPRD Samarinda itu, mendorong agar alat tersebut bisa dibuat dan diproduksi di Samarinda. Sebab itu, dia mendorong agar menjajaki kerja sama dengan SMK 15 Samarinda dan Politeknik agar ada riset dan desain alat yang lebih terukur.
Andriansyah menegaskan, program ini tidak cukup hanya dibicarakan. Menurut dia, dunia pendidikan bisa dilibatkan agar teknologi itu berkembang dengan pendekatan yang lebih praktis dan murah.
“Kita amati, tiru, modifikasi. Yang penting biaya operasionalnya murah tapi hasilnya lumayan,” ujarnya.
Ia juga menyebut biaya operasional pirolisis bisa jauh lebih rendah dibanding harga solar di pasaran. Selain nilai ekonomi tinggi, biaya rendah.
Sebagai konteks, sejumlah kajian di Indonesia menunjukkan pirolisis memang dapat mengubah plastik tertentu menjadi bahan bakar cair, selama bahan baku dipilah dengan tepat.
“Samarinda masih menghadapi beban sampah harian yang besar sehingga inovasi dari sumbernya dinilai penting,” pungkasnya.
Diketahui, tekonologi pirolisis adalah pemanfaatan dan mengubahu sampah yang diproses hingga padat menjadi gas yang kemudian didinginkan (kondensasi) dan dicairkan menjadi BBM. Sampah plastik kering dimasukkan ke dalam reaktor dan dipanaskan pada suhu di atas 300°C tanpa oksigen hingga menghasilkan uap sampai hingga berubah wujud menjadi cairan.
[Ary|Anl|Ads]
