Minggu, Juli 19, 2026
BerandaBeritaKota Tepian Masih Tertinggal Sebagai Kota Wisata, DPRD Samarinda Soroti Minimnya Apresiasi...

Kota Tepian Masih Tertinggal Sebagai Kota Wisata, DPRD Samarinda Soroti Minimnya Apresiasi Budaya Lokal

Infokaltim.id, Samarinda- Samarinda hingga kini dinilai belum mampu bersaing sebagai kota tujuan wisata.

Salah satu penyebab utamanya adalah rendahnya apresiasi masyarakat terhadap budaya lokal yang seharusnya bisa menjadi daya tarik khas ibu kota Provinsi Kalimantan Timur itu.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, menilai lemahnya rasa memiliki terhadap budaya sendiri membuat potensi wisata daerah tidak berkembang maksimal.

Dia menekankan bahwa pengelolaan kota wisata tidak bisa dilepaskan dari kesadaran warga dalam menjaga kebersihan, lingkungan, dan tradisi.

“Kalau kita tidak punya kecintaan terhadap budaya maupun lingkungan, bagaimana wisatawan mau datang? Sampah masih banyak berserakan, karakter kota pun belum terbentuk,” ucap Puji saat diwawancarai, Minggu (14/9/2025).

Menurutnya, pola pikir sebagian masyarakat Samarinda yang lebih gemar berlibur ke luar daerah, seperti Bali atau kota wisata lain, menggambarkan kurangnya kebanggaan terhadap identitas lokal.

Padahal, Samarinda memiliki banyak warisan budaya yang bisa dikembangkan sebagai magnet wisata.

“Sayangnya, potensi budaya yang kita miliki belum diangkat dengan baik. Masyarakat cenderung melihat ke luar, bukan menghidupkan apa yang ada di sini,” tambahnya.

Puji kemudian membandingkan Samarinda dengan Kutai Kartanegara (Kukar) yang dianggap lebih konsisten menjaga tradisi dan melestarikan nilai budaya.

Dirinya menilai Kukar berhasil membangun citra daerah yang berakar pada kearifan lokal, sementara Samarinda masih mencari bentuk.

“Budaya di Kukar masih kuat terjaga. Sebaliknya, di Samarinda kesadaran kolektif masyarakat terhadap budaya sendiri belum tumbuh,” tegasnya.

Untuk memperbaiki kondisi ini, ia mendorong Pemerintah Kota Samarinda membuat kebijakan yang lebih berpihak pada pelestarian budaya.

Tidak hanya lewat program, tetapi juga dengan keberpihakan anggaran yang jelas.

“Kalau ada dukungan anggaran yang memadai, upaya pelestarian dan pengembangan budaya bisa lebih terarah. Hal ini juga akan menambah daya tarik wisata baru bagi kota,” jelas Puji.

Lebih jauh, ia mengusulkan agar urusan kebudayaan tidak lagi digabung dengan sektor pendidikan karena dikhawatirkan fokus pengembangannya terbagi.

Menurutnya, ada dua alternatif yang lebih tepat, memisahkan kebudayaan menjadi sektor mandiri atau mengintegrasikannya ke bidang pariwisata agar promosi budaya berjalan lebih kuat.

“Kalau kebudayaan dipadukan dengan pariwisata, hasilnya akan lebih terasa karena keduanya saling mendukung,” ungkapnya.

Puji memastikan gagasan ini segera ia bawa dalam forum pembahasan bersama pemerintah kota.

Ia berharap, langkah konkret tersebut bisa mendorong transformasi Samarinda agar tidak hanya dikenal sebagai kota industri, tetapi juga sebagai kota dengan identitas budaya yang hidup.

“Kita ingin budaya lokal menjadi wajah Samarinda. Itulah yang akan membedakan kota ini di mata wisatawan,” pungkasnya.

[anr|anl|adv]

RELATED ARTICLES

Most Popular