Jumat, Oktober 23, 2026
BerandaBeritaLoading Batu Bara Diproyeksi Kembali Beroperasi pada 2027, Dishub PPU Optimistis Dongkrak...

Loading Batu Bara Diproyeksi Kembali Beroperasi pada 2027, Dishub PPU Optimistis Dongkrak Pendapatan Daerah

Infokaltim.id, Penajam– Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) memproyeksikan aktivitas pemuatan (loading) batu bara kembali berjalan pada 2027. Meski demikian, kegiatan tersebut diperkirakan berlangsung secara bertahap dengan kuota terbatas sesuai regulasi yang berlaku.

Kepala Dishub PPU, Agus Dahlan, mengatakan rencana tersebut menjadi salah satu harapan untuk meningkatkan pendapatan sektor kepelabuhanan. Pasalnya, terhentinya aktivitas pemuatan batu bara sejak Januari 2026 turut memengaruhi capaian penerimaan daerah.

Agus menyebutkan, pemerintah daerah perlu menyusun target pendapatan secara realistis dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi aktivitas usaha di pelabuhan. Untuk tahun depan, pihaknya memperoleh informasi bahwa sejumlah perusahaan, khususnya perusahaan batu bara, berpeluang kembali melakukan kegiatan pemuatan.

“Insyaallah tahun depan kami sudah mulai dengan beberapa perusahaan, terutama batu bara. Katanya sudah bisa loading, meskipun dengan kapasitas yang tidak terlalu besar,” ujar Agus Dahlan.

Ia menjelaskan, aktivitas pemuatan batu bara nantinya diperkirakan tidak langsung kembali ke kapasitas normal. Kuota yang diberikan kepada perusahaan akan mengikuti ketentuan yang berlaku dan diterapkan secara bertahap.

Dengan skema tersebut, volume batu bara yang dapat dimuat pada tahap awal kemungkinan masih terbatas. Peningkatan kegiatan akan bergantung pada ketentuan kuota serta perkembangan kebijakan yang mengatur operasional perusahaan.

Menurut Agus, kembalinya aktivitas pemuatan batu bara menjadi faktor penting untuk mengejar target pendapatan kepelabuhanan PPU yang ditetapkan lebih dari Rp10 miliar pada 2026. Namun, capaian target tersebut tetap bergantung pada realisasi kegiatan usaha dan besaran kontribusi dari setiap komoditas.

Ia membandingkan kondisi tahun ini dengan capaian pendapatan pada tahun sebelumnya. Agus menyebutkan, pendapatan kepelabuhanan pada 2025 mencapai sekitar Rp8,6 miliar. Bahkan, pada 2023, penerimaan tersebut pernah mencapai kurang lebih Rp13 miliar, didukung aktivitas pemuatan batu bara, CPO, dan kegiatan bongkar muat lainnya.

“Kalau batu bara bisa loading, tentunya saya yakin target Rp10 miliar itu bisa tercapai. Terutama untuk pelabuhan yang
kontribusinya sekitar Rp8 miliar lebih, itu berpotensi tercapai,” jelasnya.

Saat ini, aktivitas kepelabuhanan PPU masih ditopang oleh pemuatan komoditas kelapa sawit, termasuk crude palm oil (CPO), dari sejumlah perusahaan. Namun, kegiatan tersebut juga menghadapi tantangan akibat berkurangnya pasokan tandan buah segar (TBS) selama musim kemarau.

Agus menilai, ketergantungan terhadap sejumlah komoditas utama membuat penerimaan kepelabuhanan cukup rentan terhadap perubahan aktivitas produksi dan distribusi. Selain batu bara dan komoditas kelapa sawit, terdapat pula kegiatan bongkar muat material bangunan, seperti besi dan material konstruksi yang didatangkan dari luar daerah.

Meski demikian, kontribusi dari komoditas dan material tersebut belum sebesar potensi penerimaan dari pemuatan batu bara dan CPO. Karena itu, keberlanjutan kegiatan usaha kedua komoditas tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi capaian pendapatan pelabuhan.

Ke depan, Dishub PPU akan menyesuaikan perencanaan target dengan kondisi riil di lapangan. Jika aktivitas pemuatan batu bara kembali berjalan pada 2027, meskipun dengan kuota terbatas, peluang peningkatan pendapatan daerah diharapkan terbuka kembali.

Agus berharap pemulihan aktivitas kepelabuhanan dapat berlangsung secara bertahap sehingga kontribusinya terhadap pendapatan daerah semakin optimal, sekaligus mendukung keberlanjutan operasional pelabuhan di Kabupaten PPU.

[nly|anl|adv kmf ppu]

Post Views: 1
RELATED ARTICLES

Most Popular

Post Views: 18,406