
Infokaltim.id, Samarinda- Aktivitas perdagangan di Pasar Pagi Samarinda yang baru beroperasi kembali belum menunjukkan peningkatan signifikan.
Kondisi ini dikeluhkan para pedagang karena jumlah pembeli yang masuk ke area kios masih rendah, sehingga sebagian pedagang memilih berjualan di luar area pasar demi menjangkau pengunjung yang lebih ramai.
Sejumlah pedagang menilai kondisi pasar saat ini belum ideal.
Meski bangunan pasar sudah beroperasi, arus pengunjung ke dalam area kios masih terbatas.
Akibatnya, aktivitas jual beli lebih banyak terjadi di luar area utama pasar.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, menyatakan pihaknya akan memanggil Dinas Perdagangan (Disdag) untuk meminta penjelasan sekaligus evaluasi terkait kondisi Pasar Pagi.
“Kita akan panggil hari Selasa atau Rabu, saya juga monitor laporan dari para pedagang. Pasar yang dibangun dengan biaya Rp468 miliar, hasilnya bagus tapi malah sepi pedagang. Ekonomi enggak bergerak. Mau buat apa itu, itu yang saya khawatirkan dari dulu,” ujar Iswandi saat diwawancarai pada Selasa (23/6/2026).
Ia menilai, pembangunan fisik pasar yang sudah baik tidak akan memberikan manfaat maksimal jika tidak diikuti dengan aktivitas ekonomi yang hidup di dalamnya.
“Pembangunan infrastruktur secara estetik bagus, tapi secara manfaat tidak ada nanti. Bahaya itu,” tambahnya.
Iswandi menegaskan anggaran besar yang telah digelontorkan untuk pembangunan pasar seharusnya mampu mendorong pergerakan ekonomi pedagang, bukan justru sebaliknya.
Ia juga meminta Disdag segera mencari langkah konkret untuk menghidupkan kembali aktivitas perdagangan di dalam pasar agar tidak terus sepi pengunjung.
“Lebih baik 400 miliar itu digunakan untuk yang langsung berdampak. Kita minta dinas bagaimana caranya meramaikan lagi pasar itu. Jangan cuma bisa bangun tapi tidak bisa meramaikan,” tegasnya.
Selain sepinya pembeli, Iswandi juga menyoroti masih banyaknya kios kosong di dalam area pasar.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat fungsi pasar tidak berjalan optimal dan terkesan tidak tertata sebagai pusat aktivitas ekonomi.
“Penataan-penataan itu saya lihat banyak space kosong. Kalau pasar itu biasanya penuh orang jualan. Ini seperti lorong, bukan tempat wisata,” tutupnya.
[anr|anl|adv]
