Infokaltim.id, Samarinda- Permasalahan banjir yang kian parah di Kota Samarinda memicu perhatian serius dari DPRD Kaltim.
Anggota Komisi III, Subandi, menilai langkah penanggulangan selama ini terlalu reaktif dan terkesan tambal sulam.
Ia menegaskan perlunya solusi menyeluruh dan terencana, terutama di kawasan hulu yang menjadi sumber utama luapan air.
“Ini bukan lagi soal perencanaan, tapi soal keberlangsungan hidup warga Samarinda. Kalau tidak ada aksi nyata dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan, kondisi akan makin buruk,” ujarnya.
Salah satu solusi utama yang diusulkan Subandi adalah pembangunan bendungan pengendali di kawasan Sungai Siring, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Lokasi ini berada di hulu Sungai Karang Mumus, tepatnya di atas Bandara APT Pranoto.
Menurutnya, volume air besar dari wilayah tersebut menjadi pemicu utama banjir di pusat kota.
Tanpa adanya pengendalian dari hulu, daya tampung Sungai Karang Mumus dinilai tak mampu menahan debit air saat hujan deras mengguyur.
Subandi juga menyoroti kondisi Waduk Benanga yang semakin kritis akibat sedimentasi.
Ia mendorong agar dilakukan normalisasi total pada tahun 2026 mendatang agar fungsi penahan air waduk bisa kembali optimal.
“Penanganan banjir harus komprehensif. Bukan hanya soal waduk, tapi juga membangun kolam retensi, folder, embung, memperbaiki drainase, sampai memasang pompa air di titik-titik rawan,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa banjir di Samarinda sudah mencapai tahap darurat.
Oleh karena itu, penguatan infrastruktur drainase dan penambahan embung menjadi kebutuhan mendesak.
“Kalau ini terus dibiarkan, masyarakat akan terus jadi korban. Pemerintah tidak boleh menunggu lagi,” tutup Subandi.
